Tidak Ada Susu Formula dengan Kualitas Gizi Setara ASI


Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Dr. Tirta Prawita Sari, MSc, dalam sebuah diskusi tentang berbagai kandungan dan kemanfaatkan pemberian ASI (Air Susu Ibu) mengatakan ketika bayi menyusu pada ibunya, ia bukan hanya butuh mengenyangkan perutnya, melainkan mereka juga sangat ingin merasakan curahan kasih sayang, kemesraan,dan kedekatan hati dengan ibunya.

Tirta menuturkan kemanfaatan ini tidak mungkin dapat diberikan oleh orang lain, apalagi oleh air susu
hewan atau susu formula. Bahkan secanggih apa pun teknologi dan usaha manusia untuk membuat susu formula dengan kualitas gizi setaraf dengan susu ibu, namun fungsi kejiwaan ibu menyusui bayinya tidak dapat digantikan oleh gizi yang tinggi dari susu formula.

Meski demikian, menurut Undang-Undang Kesehatan, setelah pemberian ASI eksklusif  selama 6 bulan maka pemberian ASI tetap dapat dilanjutkan sampai 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan pendamping ASI. (MP-ASI) sebagai makanan tambahan sesuai kebutuhan bayi.

Setiap hari ungkap Dr. Tirta, ditemukan satu keunggulan dan manfaat baru air susu ibu bagi bayi. Beberapa keunggulan dan manfaat menyusu (ASI) dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.

Dari aspek gizi,ditemukan adanya kolostrum yang mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare. Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi, serta mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.

Kolostrum membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan. Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari
pertama kelahiran. Walaupun kolostrum tersebut sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Itulah sebabnya sehingga kolostrum  ini harus diberikan pada bayi.

Keunggulan lain dari ASI adalah mudah dicerna, sebab selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam air susu itu sendiri. ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan
kecerdasan bayi/anak.

Selain mengandung zat gizi berupa protein yang berkualitas tinggi, ia pun memiliki perbandingan antara Whey dan Casein yang sesuai untuk bayi.  Rasio Whey dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi.

ASI mengandung whey lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey:Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.

Selain komposisi di atas, ASI  juga mengandung Taurin, DHA dan AA. Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.

Sementara  Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai
panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA  dalam air susu Ibu ini sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak.

Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk dari substansi pembentuknya, yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).

Karena itu, Tirta menghimbau kepada ibu bayi, petugas kesehatan, perawat  atau pengasuh bayi, atau kepada siapa pun, agar sekali-sekali jangan pernah menganjurkan, memfasilitasi atau pun memberi
makanan/minuman lain selain ASI kepada bayi yang baru lahir sampai berusia di atas 6 bulan. Sebab memberi makanan/minuman lain, dapat menyebabkan bayi tersebut menolak bila suatu ketika ia disuguhi minum ASI, terkecuali bila ada indikasi lain yang dibenarkan secara medis.

Pemenuhan nutrisi pada dasarnya bukan hanya sebatas mencukupi “suplai” namun juga disertai dengan proses/cara pemberian yang baik, faktor ini kemudian menjadi penentu keberhasilan pemenuhan asupan ASI pada bayi. Karena meskipun seorang ibu memiliki ASI yang cukup namun bila teknik pemberian dan tidak adanya lingkungan yang mendukung maka asupan ASI pada bayi menjadi tidak adekuat.

Lingkungan yang mendukung berupa dukungan dari suami ataupun anggota keluarga lainnya dalam menciptakan suasana nyaman bagi ibu menyusui akan mempengaruhi produksi ASI. Atas dasar inilah maka peran ayah dan anggota keluarga lainnya menjadi faktor yang sangat penting terhadap program
menyusui.

Pengetahuan ibu serta anggota keluarga lainnya tentang ASI memainkan peranan penting lainnya terhadap inisiasi ataupun proses penyapihan. Dengan demikian untuk membantu suksesnya menyusui selama 6 bulan pertama, edukasi menjadi faktor penting. Dukungan lingkungan tak hanya berasal dari keluarga namun juga dari pemerintah sebagai penentu kebijakan serta tenaga kesehatan. Bila semua tenaga kesehatan sudah satu kata dalam hal pemberian ASI, maka inisiasi yang notabene selalu berawal di fasilatas kesehatan akan berjalan sesuai rencana.

Sumber: http://www.perempuan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: