Ada Apa Dibalik Sidik Jari Anak ?


Semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik itu perkembangan fisik maupun perkembangan otak, namun banyak orang tua yang tak menyadari dan memahami bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Dr Dwi Putro Widodo, SpA(K) neurolog anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dalam sebuah work shop yang digelar oleh Frisian Flag Indonesia (FFI) beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa, secara umum faktor tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: Genetik, Lingkungan/stimulasi dan Nutrisi. Selain itu perkembangan anak juga dipengaruhi oleh tiga aspek yakni kepribadian, kecerdasaan dan bakat.

Aspek bakat bersifat alami dan dipengaruhi genetika (nature), sementara perkembangan kepribadian dan kecerdasan selain dipengaruhi serta ditentukan oleh aspek alami atau genetis (nature) juga dipengaruhi aspek bimbingan lingkungan (nurture). Nutrisi dan stimulasi merupakan aspek bimbingan lingkungan (nurture) yang berperan besar dalam perkembangan kepribadian dan kecerdasan anak.

Yang perlu dipahami juga adalah bahwa stimulasi harus diberikan sejak anak berusia dini, lebih jauh Dr Dwi Putro Widodo, SpA(K) menjelaskan bahwa bayi memerlukan nutrisi dan stimulasi saat usia 0-30 bulan. “Diperiode ini, otak berkembang sangat pesat sehingga memerlukan nutrisi dan stimulasi yang optimal,” ujarnya

Jadi jelaslah bahwa faktor nutrisi saja tak selalu membuat anak menjadi cerdas dan memiliki kepribadian yang baik karena ada faktor lain yang bisa mempengaruhi kecerdasan dan kepribadian anak yaitu faktor stimulasi. Nah, yang menjadi persoalan para orang tua saat ini adalah pengetahuan untuk memahami secara benar tentang stimulasi seperti apa yang harus dilakukan masih kurang.

Saat ini masih banyak orang tua yang memaksakan anaknya untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dengan harapan dapat mengoptimalkan kualitas kecerdasan anak. Namun pada kenyataannya banyak anak yang merasa tertekan dan akhirnya memberontak karena merasa bahwa kegiatan yang harus diikutinya tak sesuai dengan minat, bakat serta karakter sang anak.

Efnie Indrianie SPsi, psikolog anak menjelaskan, bahwa setiap anak merupakan individu unik yang berbeda. Dengan perbedaan itu seorang anak membutuhkan stimulasi yang tepat yang sesuai dengan potensi bakat, karakter dan daya belajar anak. Dengan perlakuan stimulasi yang berbeda seorang anak akan dapat menyerap, mengolah informasi dan mengembangkan potensinya secara optimal. “Diharapkan dengan mengenali bakat, karakter dan gaya belajar anak sejak dini, akan lebih mudah bagi orang tua untuk memberikan stimulasi dan pengarahan yang tepat dalam mengoptimalkan kecerdasaan anak.” Ujar Efnie

Atas dasar kurangnya pemahaman orang tua terhadap cara menstimulasi yang tepat, Frisian Flag Indonesia mencoba membantu para orang tua dengan memperkenalkan metode analisa sidik jari (Fingerprint analysis) melalui kampanye  Analisa Sidik Jari Cerdas Frisian Flag.  Analisa sidik jari ini merupakan alat yang dapat membantu para orang tua untuk mengetahui potensi anak sejak dini, sehingga orang tua dapat memberikan stimulasi yang sesuai untuk tumbuh kembang serta minat anak dengan optimal.

Para ahli di bidang ilmu dermatoglyphics (ilmu yang mempelajari pola sidik jari) dan kalangan neuro-anatomi (kedokteraan-anatomi tubuh) telah menemukan fakta penelitian bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan berusia 13 hingga 24 minggu. Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari ternyata memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Karena itulah, sangat wajar bila ternyata bukti ilmiah menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.

Analisa Sidik Jari (Fingerprint analysis) merupakan sebuah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak. Analisa Sidik Jari (Fingerprint analysis) didasari oleh penelitian dan metode yang ilmiah yang bersifat analisis deskriptif atau perkiraan potensi bakat yang dimiliki seseorang dan pengembangannya dimasa mendatang.

Namun demikian, metode ini bukanlah sebuah alat yang dapat memvonis cerdas tidaknya seorang anak. Metode Fingerprint analysis hanyalah metode pembantu agar stimulasi yang diberikan oleh para orang tua menjadi lebih efisien, terarah dan tepat sasaran seuai dengan potensi serta karakter anak. Sementara untuk pencapaian hasil kemapuan seorang anak ditentukan oleh kerja keras dan usaha yang dilakukan, singkatnya sebagus apapun bakat dan karakter yang dimiliki anak kita, akan menjadi percuma jika kemampuan tersebut tidak diasah dan dikembangkan.

“Berbekal hasil analisis ini, para orangtua dapat memberikan semangat dan motivasi yang tepat kepada anak untuk belajar dan menyerap serta mengolah informasi secara optimal,” jelas Davy Djohan, Marketing Manager Frisian Flag Indonesia.

Untuk informasi jadwal dan lokasi acara Analisa Sidik Jari Cerdas Frisian Flag di sebelas (11) kota besar, kunjungi website http://www.ibudanbalita.com dan bergabunglah dengan komunitas Facebook page Ibu & Balita serta twitter @ibudanbalita atau kunjungi jaringan gerai yang terlibat antara lain Carrefour, Hypermart, Giant dan outlet lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: