Pahitnya Tahun Pertama


S iapa bilang tahun pertama itu manis melulu? Enggak juga, kok! Justru tahun pertama paling rawan dalam perkawinan

Kita mungkin akan terkejut dan heran bila mendengar suami-istri yang baru beberapa bulan menikah tapi sudah bercerai. Bukankah pada masa itu mereka bisa dibilang masih dalam masa berbulan madu? Tapi, itulah kenyataannya, tak sedikit pasangan yang justru bercerai sebelum usia perkawinan mereka genap setahun.

Tahun pertama perkawinan memang paling rawan. Ibarat koin, kata Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, MA, PhD., tahun pertama memiliki dua sisi. “Satu sisi memang masih bulan madu, masih manis. Satu sisi lainnya adalah masa penyesuaian, sehingga akan banyak menumbuhkan konflik,” terang pembantu dekan I Fakultas Psikologi UI ini. Nah, konflik inilah yang merupakan pemicu terjadinya perceraian apabila suami-istri tak mampu mengelola konflik secara baik.

TAK SEMANIS YANG KUSANGKA

Yang namanya bulan madu, ujar Yati, maka kemanisan itu hanya berlangsung beberapa bulan saja. “Sesudah itu muncullah topeng sebenarnya. Di balik segala kebagusan yang selama ini ditunjukkan sejak masa pacaran, kini mulai kelihatan borok-boroknya.” Dengan kata lain, masing-masing mulai keluar watak aslinya. Hal ini terjadi lantaran mereka sudah capek memakai topeng, sudah capek untuk menampilkan yang bagus-bagus melulu.

Nah, pada saat itulah, ketika mereka mulai kelihatan aslinya, mulailah muncul pertanyaan-pertanyaan. “Sebenarnya apa, sih, yang membuat saya menyukainya? Ternyata ia begini saja, kok. Tak semanis yang kusangka.” Lantas ia pun merasa salah pilih. Padahal, orang menikah itu, kan, enggak cuma seketika. Tentunya keputusan untuk menikah sudah dipikirkan matang-matang sebelumnya, karena menyangkut kehidupan pribadi. Jadi, kalau ia sampai merasa salah pilih berarti dulu enggak dipikir lagi sebelum memutuskan menikah.

Memang, aku Yati, tak semua pasangan akan mengalami hal demikian. “Ada, kok, yang sampai setahun tetap manis terus.” Itu bisa terjadi kalau selama pacaran sudah saling membuka diri, sudah tahu yang jelek-jeleknya, sehingga tak kaget lagi setelah menikah. Tapi jika selama pacaran yang diketahui dan diperlihatkan hanya yang bagus-bagus saja, maka akibatnya akan mengalami masa rawan tersebut.

SOAL SEPELE YANG BIKIN KONFLIK

Adapun masalah yang kerap timbul di tahun pertama perkawinan, menurut Yati, sebenarnya cuma pernik-pernik yang kelihatannya sepele tapi dirasakan sangat mengganggu. Misalnya, soal yang satu jorok yang satu rapi. “Masak, kalau habis mandi handuknya main lempar sembarangan saja, bukannya diletakkan di tempatnya. Padahal sudah saya sediakan tempat. Belum lagi pulang kantor, sepatu ditaruh di bawah sofa, tas kantor di atas meja makan, taruh pakaian kotor sembarangan, dan sebagainya.” Nah, hal-hal seperti itu kelihatannya kecil, tapi kalau pasangannya ternyata adalah orang yang sangat rapi dan teratur, maka ini bisa jadi masalah.

Selain itu, yang kerap muncul adalah tak pernah dibicarakannya soal keuangan. “Sebetulnya paling bagus ketika kita sudah serius sekali pacaran, bicarakan masalah keuangan ini. Bagaimana pandangan kamu tentang keuangan? Apakah harus ada pot yang diisi oleh gaji kita berdua, atau cukup dipegang masing-masing, hanya kamu bertanggung jawab dalam bidang apa dan saya bidang apa. Kelebihannya itu urusan masing-masing, dan sebagainya.” Termasuk pemberian uang untuk orang tua masing-masing, juga harus dibicarakan. Kalau tidak, bakalan ribut, deh!

Yati lantas menuturkan pengalaman kliennya yang baru setahun menikah tapi sudah minta cerai. Gara-garanya, si suami memberi lebih banyak kepada orang tuanya daripada ke mertua. Karena ibunya janda dan tak punya pensiun sehingga dialah yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ibunya, sedangkan orang tua istrinya masih komplit dan tergolong berada. Tapi karena hal ini tak pernah dibicarakan, maka ketika si istri tahu tentunya ia menganggap tindakan suaminya itu tak adil. Jadilah mereka konflik dan si istri minta cerai.

Masalah lain yang kerap muncul ialah perilaku pasangan yang layaknya masih bujangan. Suami pulang ke rumah seenaknya, tak sadar istrinya menunggu untuk makan malam bersama, bersikap masa bodoh dengan keadaan rumah, dan lainnya.

Nah, bila itu semua sudah diketahui dan dibicarakan selagi masih pacaran, tentunya tak akan menjadi gangguan selama tahun-tahun pertama. Kalaupun ada gangguan, maka hanya berupa kerikil-kerikil kecil yang masih bisa disepak. Itulah mengapa Yati menganjurkan sebelum menikah sebaiknya kita sudah benar-benar tahu dengan siapa kita akan menikah, baik kelebihan maupun kekurangan.

Tentunya setelah tahu kita harus bersungguh-sungguh menerima dia apa adanya. Bukan menerima dengan setengah hati dan lantas berpikir, toh, nanti aku akan mengubah dia seperti apa maunya aku. “Itu kesalahan fatal,” tandas Yati. Sebab, kita menikah dengan orang yang ketika bertemu sudah dewasa, yang pribadinya sudah terbentuk hingga ia dewasa itu. Jadi, kita tak mungkin bisa mengubahnya kecuali kalau ia memang mau mengubahnya sendiri.

Kecuali itu, pasangan juga harus sadar bahwa dalam perkawinan ada hak dan kewajiban. “Kadang orang hanya ingat pada hak dan lupa pada kewajibannya,” ujar Yati. Adalah tugas kita untuk mengingatkan pasangan kalau ia sampai lupa pada kewajibannya, bahwa kewajibannya kini sudah menyangkut dua orang dan akan bertambah setelah punya anak, bukan sendiri lagi.

KOMUNIKASI DAN TOLERANSI

Tapi sebenarnya belum terlambat, kok, jika plus-minus tersebut tak diketahui saat masih pacaran. Toh, kita bisa melakukannya di awal perkawinan. Tapi hal ini hanya bisa terjadi apabila ada komunikasi, masing-masing saling membuka diri dan saling mendengarkan. Maklumlah, di tahun pertama perkawinan biasanya ego masing-masing masih sangat besar, selalu berbicara dalam konteks “aku” dan “dia”, bukan “kami”. “Padahal kalau orang sudah menikah berarti mereka telah menjadi satu. Jadi, dalam berbicara konteksnya bukan lagi ‘aku’ dan ‘dia’ tapi ‘kami’. Pola ‘demi kami’ ini harus mulai dibiasakan sejak awal perkawinan,” tutur Yati.

Misalnya, pasangan bilang, “Aku nggak suka kalau kamu marah terus lempar-lempar barang.” Jangan malah kita bilang, “Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu kawin sama aku?” Karena hal ini malah akan memperuncing konflik. Si pasangan tentu akan bilang, “Karena aku nggak menyangka kamu sejelek itu makanya aku mau kawin sama kamu.” Akibatnya, malah perang”, kan! Yang terbaik adalah bersikap mengerti, “Jadi, menurut kamu aku mesti berubah? Tapi kalau aku harus berubah, sedikit saja, ya. Soalnya sejak kecil aku sudah begitu. Jadi susah, kan, kalau aku langsung berubah banyak. Tapi kalau menurut argumentasi kamu, aku harus mengubah diri, ya, aku akan berusaha.” Nah, dengan begitu, kan, enak jadinya.

Intinya adalah membuka keran komunikasi lebar-lebar dan bersikap toleransi karena kita tak bisa mengubah pasangan seperti yang kita inginkan. “Dengan adanya toleransi kita akan sadar bahwa manusia tak ada yang sempurna. Lagipula, ketika kita memilih dia untuk menjadi pasangan kita, mestinya dalam kepala kita yang terpikir adalah he is the best for me. Nah, kenapa sekarang hanya lihat yang kurangnya saja?”

Jangan lupa, Yati mengingatkan, bila sampai terjadi pecah “perang” berarti bukan hanya satu yang kecewa. “Saya yakin pasangannya juga kecewa.” Munculnya rasa kecewa ini menandakan belum seluruh “dirinya yang diketahui, sehingga yang terjadi adalah adalah ia hanya melihat sisi negatifnya saja. Nah, agar kita juga bisa melihat sisi positif pasangan, saran Yati, buatlah daftar tentang apa saja yang kita sukai dari pasangan. “Mestinya yang bagusnya juga banyak. Bukankah karena yang bagus-bagus itu makanya dulu kita mau kawin dengannya?”

Perlu disadari pula, tambah Yati, semua orang menikah pasti akan kecewa. Jadi, jangan berpikir bahwa hanya kita yang kecewa. Pasangan kita pun pasti punya kekecewaan juga. Selain itu, bila salah satu marah pada saat berkomunikasi, maka yang dingin sebaiknya meredakan. Kalau sudah reda barulah dilakukan pendekatan. Bila perlu, saran Yati, pergilah ke suatu tempat untuk membicarakannya.

INSTROPEKSI BERDUA

Sering terjadi, pasangan muda segan untuk mengungkapkan kekecewaannya. Dipikirnya, “Masak, sih, baru tahun pertama saya sudah merasa kecewa, sudah memancing keributan.” Akibatnya, demi menghindari keributan, dipendamlah rasa kecewa tersebut. Padahal, akhirnya, toh, akan ribut juga karena suatu saat akan meledak juga setelah tak tahan memendam kekecewaan demi kecewaan.

Oleh sebab itu, pesan Yati, “kalau sudah mulai ada yang mrengkel di dada, kita harus membicarakannya dengan pasangan. Sebaliknya, kalau kita melihat pasangan sudah mulai merengut melulu tapi tak dikeluarkan, maka kita harus peka bahwa ada sesuatu yang salah.” Nah, segera lakukan introspeksi berdua, “Kita ngomong, yuk. Apa, sih, yang kamu tak suka dari aku?” Lalu diskusikan, “Bagaimana caranya, ya, supaya aku tidak lempar-lempar barang lagi?” Dengan demikian, kita ataupun si pasangan bisa mengubah diri. “Tapi jangan salah persepsi, lo. Kita memang harus memulai perkawinan dengan tak berpikir bahwa kita bisa mengubah dia sesuai kehendak kita. Tapi dilain pihak, orang bisa berubah kalau ia mau berubah. Jadi, yang jelek bisa berubah bagus tapi perubahan itu atas kemauannya sendiri, bukan kita yang maksain.”

Tentunya kita jangan berharap bahwa pasangan akan berubah dalam sehari. “Hargailah perubahan sekecil apapun.” Misalnya, biasanya ia pulang kantor langsung lempar tas ke mana saja ia suka. Nah, kali ini tidak walaupun ditaruhnya masih sembarangan yaitu di atas meja.

Mungkin mata kita masih “sepat” melihatnya, tapi hargailah agar ia pun merasa dihargai, “Oh, dia melihat perubahanku walau sedikit.” Lama-lama ia tentunya akan melangkah lagi. “Jadi jangan melihat suatu sukses itu dalam paket besar. Paket kecil-kecil pun lama-lama akan besar. Jangan lupa, yang berubah itu manusia yang sudah jadi pribadinya sehingga tak mudah secepat itu untuk berubah.”

Selain itu, Yati minta agar kita lebih santai dalam menghadapi pasangan. Daripada istri marah, misalnya, “Masak taruh sepatu sembarangan? Jorok benar, sih, kamu! Saya capek harus mengurusi sepatumu terus,” lebih baik katakan dengan santai, “Mbok, ya, jangan taruh di situ, tapi ke belakang sana di tempatnya.” Begitu juga kalau suami komplain karena istrinya selalu memakai daster dan pakai peniti pula. Daripada marah, berilah alternatif, “Apa kamu mau saya belikan daster baru?” Begitu lebih enak, kan!

Menurut Yati, kalau kita berpikirnya alternatif, bukan hitam-putih, maka tak akan menimbulkan pertengkaran. Malah jadi lucu dan humor. Jadi, tandasnya, “asalkan kita bisa me-manage tahun pertama ini agar berjalan manis, maka akan bagus sekali.”

Biasanya, masa pahit di tahun pertama akan berlangsung hingga tahun ke-4 perkawinan, karena sampai tahun tersebut kita masih dalam masa penyesuaian. Meskipun seharusnya memasuki akhir pertama kita sudah mulai bisa belajar menyesuaikan diri. “Nah, kalau prahara di tahun pertama bisa dilewati, biasanya di tahun kedua dan seterusnya akan manis,” ujar Yati. Sebab, di tahun ke-2 dan seterusnya biasanya sudah ada anak, sehingga pikiran dan tenaga akan tercurah pada anak. Dengan demikian, yang tadinya hati mulai mendingin terhadap pasangan, jadi balik lagi dan bahkan bisa jadi hangat lagi dengan adanya anak.

Namun begitu bukan berarti pada tahun-tahun selanjutnya akan terus mulus. Sebab, yang namanya perkawinan merupakan proses, sehingga penyesuaian dan pertengkaran akan terus berjalan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya.

Indah Mulatsih/nakita

http://www.tabloidnova.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: