Cinta Baru, Kekasih Lama


Tiba-tiba saja, tanpa alasan jelas, Rifat Sungkar memilih pergi dari kehidupan Sissy Prescillia, kekasihnya. Pembalap rally nasional ini menghancurkan cinta sekaligus meremukkan hati pemain film Cintapuccino ini.  Sissy sampai perlu menyepi di Bali untuk mengobati luka hatinya, sementara Rifat kemudian menikahi wanita lain. Tak lama, pernikahan Rifat yang baru seumur jagung itu kandas. Dalam kesendirian, ia pun menyadari bahwa Sissy adalah wanita terbaik untuknya. Sissy pun akhirnya menerima kembali cinta lama itu, meski prosesnya tak mudah.

Mungkin Anda bertanya-tanya, kok, Sissy mau menerima Rifat kembali? Orang bilang, cinta memang bisa mengalahkan segalanya. Termasuk ego dan sakit hati. Tapi, siapa yang mau sakit hati untuk kedua kali? Bukan hanya soal sakit hati, karena menurut psikolog Roslina Verauli, berbeda dengan pasangan baru, pasangan ‘lama’ harus menyelesaikan unfinished business sebelum merajut lagi tali cinta. “Selesaikan dulu konflik di masa lalu, baru bisa memikirkan masa depan dengan lebih baik baik,” katanya.

KEKASIH LAMA = MASALAH LAMA?

Kembali pada kekasih lama memang banyak enaknya. Tidak perlu melewati masa ketar-ketir saat pendekatan. Tak perlu berdandan habis-habisan untuk memberi kesan manis saat berkencan. Juga tak perlu canggung berkenalan dengan keluarga dan teman-teman kekasih. Kebiasaan dan tabiat si dia pun, kita sudah paham. Rasanya, seperti meloncati beberapa langkah dari proses normal dalam mengawali sebuah hubungan.

Tapi, kembali pada kekasih lama juga bisa berarti kembali pada masalah lama. Apalagi, kalau hubungan yang dulu berakhir dengan tidak baik-baik. Dengan kata lain, karena tidak menemukan solusi yang tepat untuk masalah yang dihadapi, kedua belah pihak memutuskan untuk mengakhiri hubungan saja. “Penelitian membuktikan, sebagian besar pasangan gagal menyelesaikan konflik. Biasanya karena lelah bertengkar, masalah dianggap sudah selesai dan ditinggalkan saja tanpa solusi,” papar Roslina.

Hal ini sangat disayangkan. Sebab, dalam setiap hubungan yang sehat pasti ada konflik. Tinggal bagaimana kedua belah pihak menemukan jalan tengahnya saja. Tapi, masalahnya, menurut Roslina, kebanyakan orang masih kurang menguasai kemampuan untuk berkompromi dengan pasangannya. “Sepertinya susah sekali untuk terbuka pada pasangan. Komunikasi jadi tidak lancar, masalah pun tak terselesaikan,” tambahnya.

Kebiasaan melarikan diri dari masalah ini umumnya berbuntut kebiasaan gonta-ganti pasangan. Dihadang masalah sedikit saja, langsung putus dan buru-buru mencari penggantinya. Roslina mengungkapkan, kenyataan ini memang diperparah oleh sifat dasar manusia yang selalu ragu dengan apa yang dimilikinya. Sifat yang selalu ingin mencari-cari yang lebih baik. “Sepertinya, ada rasa tidak percaya dengan apa yang pertama kali dirasakan. Selalu merasa harus ada yang kedua, ketiga, atau keempat sebagai bahan perbandingan.”

Padahal, berkomitmen dengan seseorang itu sebetulnya mudah. Yaitu, dengan mengecek lewat satu pertanyaan besar:  apakah dia memenuhi kriteria sebagai teman hidup atau tidak. Dari situ kemudian timbul berbagai pertanyaan lanjutan yang lebih detail. Misalnya, apakah dia cukup baik? Cukup pengertian? Cukup bisa dipercaya? Cukup bisa diandalkan? Cukup memiliki materi? Kalau jawabannya ternyata kebanyakan tidak, ya sudah, cari saja yang lain! Gampang, ‘kan?

Kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu. Dalam kasus-kasus CLBK (cinta lama bersemi kembali), banyak orang yang baru menyadari bahwa apa yang pernah mereka punya, sebetulnya sudah cukup atau bahkan lebih baik dari yang lain. Setelah dibanding-bandingkan, rumput tetangga tidak lebih hijau daripada rumput sendiri. Dan ternyata, setelah dilihat-lihat lagi, masalah yang dulu mengakibatkan hubungan retak, sepele sekali! Kalau sudah begitu, barulah penyesalan datang.

PERLU SINGKIRKAN GENGSI
Untuk mengakui kesalahan sendiri dan memaafkan orang lain, bukan hal yang mudah. Dibutuhkan hati yang cukup besar. Seberapa besar ego yang akan dikorbankan demi mendapatkan kembali cinta yang dulu pernah hilang, semua itu tergantung pribadi masing-masing. “Cinta bukan sesuatu yang bisa ditahan-tahan. Kalau terlalu mengikuti ego, bisa-bisa kita jomblo selamanya,” ujar Roslina, berpendapat. Maksudnya, kalau memang masih cinta, buat apa gengsi? Pada akhirnya lebih baik menuruti kata hati daripada ego.

Sesungguhnya, pasangan yang ingin menyambung cinta yang pernah terputus sekian lama, dapat mengambil banyak pelajaran berharga dari waktu yang dilewati ketika sendiri-sendiri. Pasangan harus bisa melihat ke belakang dengan pikiran yang lebih dewasa. Perlu sekali mengidentifikasi kesalahan fatal apa saja yang dulu dilakukan supaya tidak terulang lagi. “Jangan sampai, kita menerima lagi si mantan kekasih hanya karena sudah maklum atau toleransi kita jadi lebih tinggi terhadap masalah-masalah yang terjadi,” Roslina mengingatkan.

Kalau sudah teridentifikasi, sambung Roslina, selidiki dan pelajari apa penyebab dari masalah yang dulu timbul itu. Misalnya, apakah karena kurang komunikasi, kurang perhatian, atau hanya sekadar ego yang berlebihan? “Kalau besok-besok ternyata berantem di area yang sama, kita sudah tahu harus berbuat apa.”

Setelah kekusutan masa lalu diluruskan, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menyusun visi dan misi bersama. Visi dan misi membuat pasangan mempunyai ikatan bersama. Bagi yang memutuskan untuk menikah, mulai saja dari hal yang paling sederhana. Misalnya, mana yang harus didahulukan, ingin punya anak atau membeli rumah. “Hal-hal seperti ini dapat membuat pasangan jadi lebih semangat dalam menjalani hubungan. Kemungkinan besar hubungan akan tetap langgeng, kalau kedua belah pihak sama-sama fokus dan mengusahakan supaya tujuan-tujuan itu tercapai,” papar Roslina.

Penulis: Primarita S. Smita

[Dari femina 27 / 2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: