Pria, Kanak-kanak Abadi?


Setiap kali ditanya berapa anaknya, Noella Birowo (30), selalu menjawab: dua! Padahal, siapa pun tahu, istri dari Indra “Extravaganza’ Birowo ini cuma punya anak satu, yaitu Arka (15 bulan). Satunya lagi? “Suami saya! jawab Noella, tertawa. “Dia ‘anak sulung’ saya. Uuh, kelakuannya nggak kalah dengan Arka.

PRIA TAK KUNJUNG DEWASA?
“Setuju!” seru Dewi Murni (34), seorang ibu rumah tangga, sambil tertawa. Dewi mengaku, kalau sedang sakit, sifat kekanakan suaminya selalu kambuh. “Duh, manjanya bukan kepalang. Sepanjang hari, dia akan sibuk mengeluh sakit di sekujur tubuhnya. Mulai dari ngilu, nyeri, senut-senut, dan sebagainya, seperti orang yang sakit parah saja. Padahal, sakitnya hanya flu atau atau sakit tenggorokan,” tutur Dewi, geleng-geleng kepala.

Kelakuan suami Sheila Delila (29) lain lagi. Istri David, personel band Naif, ini mengatakan, suaminya punya hobi yang unik, yaitu mengoleksi action figure (boneka yang merupakan miniatur tokoh tertentu), khususnya tokoh-tokoh musik idolanya, semisal personel The Beatles, Kiss, dan sebagainya.

Benarkah setiap pria pada dasarnya memang kekanakan?

“Ah, masa? Saya tidak setuju dengan pendapat itu,” tukas Satriyo Wibowo, psikolog dari Prompt Research. Menurut Satriyo, pada dasarnya baik pria maupun wanita, memiliki sifat kekanakan dalam dirinya. Pendapat Satriyo ternyata dibenarkan oleh Ira Puspitawati, psikolog dari Universitas Gunadarma, Depok. Ira mengaku, ia tak menemukan satu teori pun dalam ilmu psikologi yang membenarkan pendapat itu. Ira mengatakan, anggapan bahwa kaum pria kekanakan hanyalah sebuah persepsi gender yang terbentuk akibat adanya stereotipe-stereotipe tertentu tentang pria dan wanita.

“Karena itu, bila sesekali pria dalam keadaan lemah (misalnya ketika sakit, menganggur dalam waktu cukup lama, atau baru dimarahi habis-habisan oleh bosnya), dan menunjukkan sikap manja atau mutung, maka wanita serta merta menvonis sikap mereka sebagai kekanakan,” tambah Ira.

Menurut psikolog Lusia R. Sari, seseorang (dewasa) layak disebut kekanakan apabila dia (selalu atau sering kali) tidak mampu merespon setiap stimulus secara adekuat (memadai) sesuai dengan perkembangan usianya. “Kedewasaannya tidak berkembang sesuai usianya,” ujar psikolog lulusan Universitas Gajah Mada ini. Namun, Lusi menambahkan (dengan berat hati), sifat kekanakan ini ternyata tidak cuma milik kaum adam, tetapi juga kaum hawa.

WANITA JUGA SENANG MEMANJAKAN
Kalau mau jujur, bisa jadi sikap manja dan kekanakan para suami atau kekasih itu sebenarnya berasal dari sikap kita –para wanita— juga. “Secara natural, kaum wanita memang dianugerahi sifat-sifat yang khas, yaitu senang merawat, memelihara, dan memperhatikan, khususnya terhadap orang-orang yang kita cintai. Dan, kalau mau jujur, sesungguhnya kita sangat menikmati peran itu,” tutur Ira.

Mungkin, atas nama cinta, selama ini kita memang sering –secara sadar atau tidak— menciptakan menciptakan kondisi yang akhirnya membuat kaum pria menjadi manja dan kekanakan.

Namun begitu, Satriyo menambahkan, pada umumnya seorang pria hanya mau memperlihatkan sisi-sisi lemahnya kepada orang-orang yang selama ini membuat dirinya merasa nyaman. Misalnya, kepada ibu, istri, atau sahabat-sahabat terdekatnya. “Sebenarnya, sifat manja dan kekanakan yang diperlihatkan seorang suami bisa dijadikan indikasi sejauh mana ia merasa nyaman terhadap istrinya, he..he…,” ujar Satriyo sambil tergelak.

Namun, kalau sifat-sifat kekanakan suami sudah berlebihan, bersifat menetap, dan akhirnya membuat hidup istri dan keluarganya jadi tersiksa lahir batin berkepanjangan, itu memang layak dikategorikan tidak normal alias ‘sakit’. Bisa jadi, dia memang mengidap Peterpan Syndrome.

[Dari femina 12 / 2007]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: