Pria dalam Gua-nya


Jika pada suatu malam, menjelang long weekend, saya mulai mengelus-elus sepeda Kona Chromolly saya (chromolly: sejenis besi yang lebih ringan, lebih kuat, dan antikarat), kemudian memberinya pelumas di sana-sini, memasang pannier (tas sepeda) di boncengannya, maka istri saya sadar benar bahwa sebentar lagi dia akan kehilangan saya. Tetapi, bukan cuma dia sendiri yang ngeh, juga anak-anak saya tercinta. Karena adegan ini selalu berulang, pada akhirnya bahasa tubuh lebih bermakna ketimbang kata-kata. Paling-paling Naz, si bontot ceriwis, yang akan bertanya, ”Memangnya, Abi mau ke mana?”

Menjawab pertanyaan sederhana itu, tidak selalu mudah. Mudah, jika perjalanan bersepeda yang akan dilakukan adalah perjalanan terencana, jarak jauh, memakan waktu berhari-hari, serta melewati persiapan panjang. Karena, tentunya saya sudah bercerita pada istri saya dan memberi pengertian pada anak-anak sejak jauh-jauh hari. Susah, jika perjalanan itu dadakan, perjalanan kontemplasi atau pelepas stres, selama satu atau dua hari, dengan tujuan negeri antah berantah.

SEPERTINYA, SEMUA PRIA BEGITU
Awalnya, saya mengira hanya saya yang punya sifat ’aneh’ seperti itu. Kemudian, saya menemukan beberapa rekan aneh serupa. Risman, misalnya, seseorang yang sedemikian adiksi terhadap segala hal berbau kereta api. Saya tidak akan bercerita mengenai hobinya mengumpulkan miniatur kereta, memotret kereta –mulai dari lokomotif, rangkaian, hingga relnya–, browsing gambar-gambar kereta api di luar negeri, atau ketika dia melakukan perjalanan dengan beragam jenis kereta plus beragam tujuan. Ada sesuatu yang lebih besar di balik hobinya itu.
”Sepanjang ada rel, dan sepanjang masih ada kereta yang melewatinya, maka akan saya ikuti,” kata Risman, mengenang perjalanannya ’mengukur’ panjang rel kereta di Sumatra. Cukup aneh dan agak gila di kuping saya.
”Atau, kadang-kadang, saya datang ke stasiun. Sekadar melihat kereta datang dan pergi, mendengar bunyi besi-besi yang beradu sehingga menimbulkan suara berdecit yang khas. Percaya atau tidak, hati ini mendadak tenang,” katanya, bak seorang pujangga.
Lalu, ”Bahkan, sebelum punya anak, saya bisa tiba-tiba melompat ke dalam kereta… pergi begitu saja. Tak peduli jurusannya. Saya benar-benar menikmati kilometer demi kilometer perjalanan, merenung, dan nanti kembali lagi pada rutinitas harian dengan lebih segar.”
Pada Risman yang aneh, saya melihat diri saya. Begitu juga ketika saya mendengar kisah Ari Putranto,  yang senang mengoprek mobil semiantiknya.
”Rasanya nikmat. Barangkali, tanpa sadar ini pengejawantahan keinginan saya untuk menyendiri. Ya, seperti menemukan dunia yang saya suka. Sebenarnya, saya ini manusia yang tidak bisa diam, tidak suka bersantai. Akhirnya saya mengoprek mobil, sesuatu yang masih bisa dilakukan di rumah dan dekat dengan keluarga.”
Meski dilakukan di garasi atau di halaman rumahnya, toh, waktu yang disediakan Ari untuk mengoprek mobilnya adalah waktu yang, baginya, sangat spesial. Dua jam minimal setiap weekend, menjadi dua jam yang paling sulit untuk diganggu. Padahal, apa yang dilakukan Ari hanya sekadar mengurusnya seapik mungkin. Misalnya, ketimbang hanya mencuci body mobil, dia juga membersihkan mesin dan baut-bautnya, menyemir tiap inci permukaan ban mobilnya, melakukan perbaikan ringan ini dan itu, serta memastikan bahwa mobil semiantiknya tetap tangguh, meski dipakai ribuan kilometer sekali jalan.
Karena mengoprek mobil adalah otorisasi Ari yang tak bisa diganggu-gugat, istri dan anak-anaknya menjadi super hati-hati memperlakukan mobil-mobil peliharaan Ari. Sebab, mereka tahu, pada mobil-mobil itu ada tanda cinta yang dalam dari suami atau ayah mereka. Jangankan membuat baret pada body mobil, bahkan makan di dalam mobil pun hukumnya haram.
Saya juga menemukan Asri Aditya dengan keinginan besarnya untuk terus traveling, Icam yang kerap pergi jauh untuk mengejar objek landscape alam sumber inspirasi pemotretannya, Ade yang selalu ikut lomba mobil-mobilan. Tamiya -bahkan bersaing dengan anaknya sendiri, dan puluhan pria lain yang menyediakan waktu khusus untuk dirinya.
Barangkali, inilah gua kami -para pria – untuk keluar sejenak dari kehidupan: pekerjaan, keluarga, atau bahkan komunitas. Sebagian besar gua tersebut bernama hobi, lainnya bertajuk kontempelasi, atau entah apalah namanya….

KETIKA WANITA MENGUSIK GUA  PRIA

Sayang, tak semua wanita mengerti bahwa pria terkadang butuh kesendirian, butuh diabaikan. Ketika seorang pria sedikit menjauh, wanita biasanya segera mengejar dan memastikan bahwa ”Semuanya baik-baik saja.” Justru memastikan dan memaksakan fakta bahwa segalanya baik-baik saja -pada seorang pria- bisa berakhir dengan rasa sakit hati di pihak wanita. Karena, makin dikejar, pria itu akan makin menghindar.

Beberapa wanita kemudian mencoba mencari jejak sang pria dengan segala cara: email, instant messenger, SMS, telepon, surat, dan lain sebagainya. Sang pria tak pernah peduli pada semua pesan itu. Percayalah, ini bukan karena keinginan untuk menghindar. Tapi, saat berada di guanya, pria merasa bahagia dengan kesendiriannya. Sukar dilukiskan. Tapi, kira-kira seperti ini, kami sedang mengadu pada kesunyian. Meski barangkali belum tentu memperoleh jawaban, setidaknya kami merasa puas, karena sudah mencurahkan segala perasaan. Artinya, menjawab semua pesan dari dunia nyata, hanya akan mencemari proses ’meditasi’ yang sedang kami lakoni.

Itu sebabnya, setelah kembali ke dunia nyata, kami bisa tiba-tiba muncul di hadapan Anda, sembari tersenyum ceria dan tanpa rasa berdosa. Beberapa pria mungkin akan meminta maaf, karena tidak membalas pesan dan menjawab dering telepon Anda. Tapi, yang lainnya, yang kurang begitu peka, atau merasa bahwa hal ini adalah sesuatu yang biasa ia lakukan, belum tentu akan meminta maaf. Please, jangan sakit hati. Kami tetap mencintai Anda.

Di sisi lain, wanita biasanya menafsirkan sebuah hubungan yang harmonis sebagai hubungan yang penuh dengan kontak, makin dekat makin baik. Wanita memiliki kecenderungan untuk selalu berperan dalam kehidupan pasangannya, baik susah maupun senang. Sementara kesusahan, bagi sebagian besar pria yang merasa dirinya sebagai pejantan tangguh, adalah sesuatu yang tabu untuk dibagikan, apalagi kepada orang-orang yang paling dikasihinya.

Tapi, apakah hanya itu alasan saya dan kawan-kawan pergi menyendiri? Kesusahan (akibat stres, gagal melakukan sesuatu, belum menemukan solusi dari sebuah persoalan, hingga rasa bosan dan lelah) memang menjadi salah satu penyebab pria pergi menyendiri. Tapi, terkadang, pria ingin menyendiri karena memang ingin menyendiri saja, tanpa alasan khusus.

Suatu ketika, saya naik Gunung Salak sendirian. Saya enganggap perjalanan mendaki Gunung Salak sendirian, akan melengkapi kemenangan saya beberapa hari lalu: memukul roboh seorang preman yang mengamuk! Buat Anda pasti itu adalah alasan paling aneh. Tapi, minimal Anda bisa membayangkan, apa yang terjadi, jika dalam perjalanan itu ada seorang wanita yang ikut bersama saya. Saya akan merasa bahwa wanita itu ikut-ikutan mencicipi kemenangan seorang pejantan. Tak rela rasanya.

”Tapi, ya, itu, Lang. Istriku kadang-kadang protes, ketika ada acara keluarga yang bentrok dengan acara yang berkaitan dengan hobiku.Yah, berusaha objektif saja. Jika acara keluarga itu lebih penting, hobi harus mengalah,” jawabnya.

”Kamu kecewa?” kejar saya.

”Aku kira ini pilihan. Menikah juga sebuah pilihan. Kalau aku mementingkan hobiku, buat apa menikah?” tanya Risman.

Saya terkekeh-kekeh mendengar jawabannya.

”Itu sebabnya, saya memilih hobi yang bisa dilakukan di rumah,” kata Ari Putranto. ”Buat saya yang sudah berkeluarga, yang setiap harinya sibuk, waktu libur terlalu mahal jika harus dihabiskan bersama orang lain.”

KONTEMPLASI DIRI, TANPA MENYEPI
Jawaban Ari seperti menonjok dahi saya.

Ada sesuatu yang harus saya tanyakan pada istri saya segera. Segera. Mestinya, pertanyaan itu saya ajukan sepuluh tahun yang lalu. Maka, sepulang kantor, setelah melewati deadline pekerjaan yang ketat, saya menghampiri Bunda dan bertanya mesra….

”Apa, sih, pendapat Bunda soal touring bersepeda Abi?”

”Bangga, dong. Anak-anak juga bangga,” jawabnya, tersenyum.

Saya diam sesaat. Mereguk teh yang dihidangkannya, lalu memandangi matanya dalam-dalam.

”Jujur, Bun?”

Sadar akan keseriusan saya, Bunda menjawab lirih, ”Terus terang, Bunda cemburu.”

Saya kaget, sumpah! ”Cemburu?” tanya saya, dungu.

”Ya, jangankan melihat Abi mengelus-elus sepeda, kadang-kadang melihat Abi begitu sayang pada Shahnaz saja, Bunda cemburu, kok,” jawabnya. Oh my God. Jangan-jangan, gara-gara hal ini pula dia kemudian mencoba masuk ke dalam gua saya: mulai bersepeda dan belajar mencintai hobi saya itu. Jika ternyata hal itu yang ’sesungguhnya’ memotivasi dirinya, betapa jahatnya saya sebagai seorang suami. Betapa tidak pekanya saya.

Tapi, kemudian dia tersenyum….

”Jangan dipikirin, Bi. Bunda senang kalau Abi senang. Bunda tahu, ketika Abi pergi bersepeda sendirian, Abi bahagia. Lagi pula, setiap pulang dari perjalanan panjang, Abi lebih segar.”

Mata saya berkaca-kaca mendengar jawabannya.

Terngiang dalam otak saya, lagu Ada Band. Karena wanita ingin dimengerti, lewat tutur lembut dan laku agung. Saya meringis, malam ini, kata ’wanita’ dalam lagu itu mestinya diganti dengan kata ’pria’ saja. Lebih fair!

Penulis: C. Gumilang (Kontributor – Jakarta)


[Dari femina 23 / 2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: