Kanker Serviks


Bukan menakut-nakuti, tetapi data dari Ikatan Patologi Indonesia (1998) menyebutkan, angka penderita kanker serviks mencapai 17,2%, (dari seluruh kasus kanker di Indonesia), dan tertinggi di antara berbagai jenis kanker yang ada. Namun, syukurlah, ada juga kabar baiknya. Kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya, sehingga upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Berikut ini penjelasan dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.O.G (K) dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, yang sejak tahun 2002 aktif dalam kegiatan pencegahan kanker yang mematikan ini melalui deteksi dini.

DERITA PANJANG
Organ reproduksi wanita terdiri dari indung telur dan rahim. Bagian terbawah dari rahim inilah yang disebut leher rahim atau serviks (ada juga yang menyebutnya mulut rahim), dan berhubungan langsung dengan vagina. Sebagai salah satu organ reproduksi, letak leher rahim memang paling terekspos dengan dunia luar.

Penyebab kanker serviks adalah virus HPV (human papilloma virus). Hubungan seksual itu sendiri hanyalah satu di antara sekian faktor penyebab. Karena virus HPV tidak sepenuhnya menular lewat hubungan seks, maka kanker serviks adalah ancaman bagi setiap wanita, bahkan wanita yang tidak menikah sekalipun.

Wanita yang rawan mengidap kanker serviks adalah yang berusia antara 35-50 tahun, dengan pertimbangan, rata-rata wanita telah melakukan kontak seksual mulai usia 20 tahunan. Sejak masuknya virus HPV ke leher rahim, menginfeksi, hingga akhirnya sel normal berubah menjadi sel kanker, dibutuhkan waktu 5 sampai 10 tahun.

Seperti kanker-kanker lain, kanker serviks tidak memiliki gejala spesifik. Cara kerja virus ini perlahan namun pasti. Awalnya ia mengganggu leher rahim. Pada tahap ini, penderita biasanya mengalami gangguan seperti sulit buang air kecil dan buang air besar. Akibatnya, perut menjadi kembung dan membesar. Nyerinya luar biasa.

Gangguan ini akan berlanjut dengan munculnya keputihan yang sangat banyak serta perdarahan. Menurut dr. Ocvy, ini bukan lagi gejala, tetapi sudah menunjukkan bahwa penderita mungkin telah mengidap kanker serviks. Karena itu, dr. Ocvy menambahkan, pasien yang datang ke dokter biasanya sudah mengidap kanker pada stadium lanjut. “Operasi hanya bisa dilakukan pada stadium satu. Lebih dari itu, pasien harus menjalani tahapan kemoterapi dan radiasi.”

JANGAN BERI KESEMPATAN
Dengan telah diketahui penyebabnya, maka upaya pencegahan kanker serviks bisa dilakukan sedini mungkin, yaitu agar virus HPV tidak sampai masuk ke dalam tubuh. Kalau sudah kadung masuk, tak boleh berkembang menjadi kanker yang mematikan. Karena itu, “Jangan beri kesempatan virus ini masuk dan mengganggu organ reproduksi kita,” tegas dr. Ocvy.

Upaya pencegahan dilakukan melalui 3 cara:
1. Primer: Mencegah virus masuk ke dalam tubuh. Salah satu caranya adalah melalui edukasi. Perilaku seksual berganti-ganti pasangan sangat riskan tertular dan menularkan virus HPV. Pencegahan primer lain yang juga mulai digalakkan adalah vaksinasi HPV.

2. Sekunder: Cara mencegah dan mendeteksi lesiprakanker (prakanker) biasa kita kenal sebagai tes pap-smear. Sel pada leher rahim diambil, kemudian diperiksa di laboratorium. Dari hasilnya bisa dilihat apakah sel tersebut memiliki kemungkinan berubah menjadi sel kanker atau tidak.

3. Tersier. Tindakan yang harus dilakukan adalah mempertahankan kualitas hidup orang yang sudah positif menderita kanker serviks. Caranya dengan memberikan gizi yang baik serta dukungan dari keluarga maupun pihak-pihak profesional (dokter, psikolog). Apabila daya tahan fisik dan mental penderita buruk, mor­talitasnya pun akan semakin cepat.

TEROBOSAN BARU
Berawal dari penelitian John Hopkins Research Institute di Thailand dan Afrika Selatan, akhirnya ditemukan bahwa asam asetat atau asam cuka bisa menjadi media untuk meneliti ada atau tidaknya sel kanker dalam leher rahim. Cara ini selanjutnya disebut sebagai tes IVA (Inspeksi Visual dengan aplikasi Asam asetat).

Dokter Ocvy menjelaskan, asam cuka yang biasa digunakan untuk memasak ini, konsentrasinya diturunkan hingga menjadi 5%. Caranya sama seperti melakukan pemeriksaan organ reproduksi. Segumpal kapas yang sudah dibasahi cuka dipasang di ujung sendok speculum, alat sederhana yang pasti dimiliki oleh dokter ataupun bidan di klinik mana pun. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam rongga leher rahim melalui vagina, dan ditunggu 1-2 menit. Bila kapas yang semula berwarna pink berubah warna menjadi garis-garis putih yang menyerupai peta, maka harus dicurigai adanya lesiprakanker. Untuk meng&amati pun cukup dengan penerangan lampu biasa berdaya 80-100 Watt.

CEGAH SEKARANG, ATAU…
Langkah pertama, dengan melakukan tes pap-smear untuk mengetahui kondisi kesehatan organ reproduksi Anda, khususnya leher rahim. Biaya yang dikeluarkan sangat murah dibandingkan dengan pengobatan penyakit itu sendiri, yaitu mulai Rp30.000 (tergantung tempat layanan kesehatan yang Anda pilih). Idealnya, tes pap-smear dilakukan 3 tahun setelah kontak seksualnya yang pertama.

Namun, hasil satu kali melakukan tes pap-smear belum bisa dijadikan indikasi bahwa Anda terbebas dari bahaya kanker serviks. Jangan lupa bahwa perjalanan kanker serviks memakan waktu 5 sampai 10 tahun. Karena itu, wanita dianjurkan melakukan tes pap-smear setidaknya 5 tahun sekali.

Cara kedua adalah dengan melakukan vaksinasi HPV, meski saat ini masih termasuk mahal, yaitu antara 2 hingga 3 juta rupiah per seri. Yang perlu ditekankan, vaksinasi ini baru efektif bila diberikan pada wanita usia 9 sampai 26 tahun. Dengan menjalani vaksinasi, risiko terkena kanker serviks pada usia ini bisa menurun hingga 75%.

Kanker serviks pada stadium 2 sampai 4 telah menyebabkan kerusakan pada organ-organ lain, sehingga operasi saja tidak cukup untuk membuat Anda sembuh. Penderita masih harus mendapatkan terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi.

Operasi yang paling sederhana pun bisa memakan biaya antara Rp10–Rp12 juta, sementara kemoterapi dan radiasi juga harus dilakukan berulang-ulang, dengan biaya antara 20 hingga 30 juta rupiah. Ini pun tidak menjamin kesembuhan 100%, mengingat organ-organ tubuh sudah banyak yang rusak.

[Dari femina 36 / 2007]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: