Strategi Perang Mulut


Bukan hanya negosiasi tingkat tinggi yang perlu win-win solution. ’Perang’ dengan pasangan pun ternyata sebaiknya juga berakhir dengan solusi yang bikin happy dua pihak. Tanpa disadari, kalau sedang bertengkar, kita sibuk mengumbar kata-kata. Padahal, kata-kata itu tidak menuju pokok permasalahan. Akhirnya, bukan mendapat solusi, malah cuma saling sakit hati.

Hari berikutnya, kejadian yang sama persis bisa jadi akan terulang kembali. Karena, solusinya memang belum ketemu. Kalaupun berhenti bertengkar, barangkali karena sudah bosan ngomong atau capek menangis. Psikolog Anna S. Ariyani memberikan strategi agar perang ini tak jadi debat kusir.

LIHAT SITUASI DULU
Ketika pasangan meributkan suatu hal, kita perlu tahu, apa yang sebenarnya dia tuju. Misalnya, Anda pulang larut malam dengan membawa makanan kesukaannya. Maksudnya, sih, ingin menyenangkan hatinya, tapi komentar suami malah bikin kesal. “Ngapain, sih, bawa makanan banyak banget. Ini kan sudah malam?” Kesannya dia ribut soal makanan. Padahal, kemungkinan besar sebenarnya dia mengungkapkan keberatannya karena Anda sering lembur.

Atau, barangkali ketika baru pulang kerja, Anda tak sadar menjawab pertanyaan pasangan dengan nada judes. Gimana nggak judes? Pekerjaan hari itu betul-betul menyedot pikiran, badan pun rasanya remuk. Sikap judes Anda ini mungkin akan menyulut pertengkaran. Padahal, Anda tidak punya maksud bikin ribut di malam buta begitu.

Jadi, sebelum ribut dan emosional, lebih baik Anda memahami kondisi pasangan. Apakah waktunya tepat untuk membuka topik pembicaraan? Apakah benar dia oke-oke saja dengan kesibukan Anda?

Namun, jika pertengkaran tetap tak bisa dihindari, apakah setiap masalah yang kadar besar-kecilnya terbilang relatif ini selalu dibahas? “Kalau masalah yang sama terjadi setiap hari, maka masalah itu perlu dibahas tuntas. Yang disebut tuntas adalah ada niat dari masing-masing pihak untuk berubah secara konkret,” kata Anna.

Misalnya, suami tak terbiasa membuang sampah di tempatnya. Buat suami, ini bukan masalah. Tapi, bagi Anda yang selalu ingin rumah terlihat rapi, ini bisa menjadi masalah besar. “Carilah jalan, apa yang bisa membuat kebiasaan pria tersebut tidak terulang lagi,” saran Anna. Salah satu solusinya, taruh tempat sampah di setiap ruangan di rumah.  Tapi, tetap dibutuhkan kesabaran sampai pasangan terbiasa meletakkannya di sana.

Ada lagi pasangan yang mengeluh, pasangannya sulit berubah. “Capek rasanya marah untuk urusan yang itu lagi itu lagi.” Begitu mungkin keluhan Anda. Kalau kejadiannya seperti itu, mungkin ada baiknya Anda introspeksi diri. Apa betul pasangan tidak mau berubah? Atau, jangan-jangan Anda yang tidak melihat perubahannya? Misalnya, Anda mengeluhkan pasangan yang tidak pernah tersenyum menyambut Anda pulang kerja. Padahal, katanya dia mengerti kesibukan Anda. Setelah ditelusuri, ternyata pasangan Anda bukannya tidak mau tersenyum, tapi dia sendiri capek menidurkan si kecil, sambil menunggu Anda pulang.

INI STRATEGINYA!
Perang mulut sebenarnya adalah ekspresi kemarahan. Tapi, kalau kemarahan itu tidak tepat sasaran, tetap saja tak ada gunanya. Hanya buang-buang energi. Karena itu, simak enam strateginya.

1 TENTUKAN WAKTU
Anda dan pasangan adalah orang yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk menumpahkan emosi. Setiap momen yang Anda pilih ada konsekuensinya. Pilihannya ada dua. Pertama, menunggu sampai sama-sama tenang. Plusnya, masalah bisa terselesaikan dengan kepala dingin. Minusnya, dibutuhkan waktu cukup lama, sementara Anda mungkin ingin masalah ini diselesaikan segera.
Kedua, ketika Anda dan pasangan justru sama-sama sedang marah. Keuntungan, Anda bisa langsung bertanya dan mengekspresikan diri. Kerugian, karena sama-sama emosi, hasilnya bisa debat kusir.

2 KATAKAN DARI SUDUT PANDANG ANDA
Gunakan cara ‘I message’. Ungkapkan dulu apa yang Anda rasakan dari sudut pandang Anda. Lebih baik katakan, “Kamu tahu nggak, aku kesepian setiap kamu pulang malam.” Jangan bilang, “Kamu kenapa, sih, pulangnya malam terus?”

Dengan ‘you message’, kita seolah menuding dia melakukan kesalahan. Buat pria, dituding seperti ini akan membuatnya merasa tidak nyaman. Sebaliknya, dengan ‘I message’, dia akan mengerti, apa yang dia lakukan ternyata berpengaruh pada orang yang dia cintai. Hasilnya, dia lebih berempati.

3 TAHAN NADA SUARA
Kalau hati sedang panas, terkadang kita agak kesulitan menahan diri untuk tidak mengeluarkan nada tinggi. Jangan lupa, kalau pasangan melakukan hal tersebut, itu hanyalah ekspresi marah, bukan berarti membenci Anda. Tarik napas dalam-dalam, agar oksigen masuk ke otak, dan Anda bisa berpikir rasional lagi. Ada baiknya pasangan mengingatkan, jika salah satu pihak sudah mulai melenceng dari ribut sehat.

4 JANGAN MENGUNGKIT KESALAHAN
Mengingat dan mengungkit kesalah­an pasangan akan sangat merugikan Anda. Pertama, belum tentu ia ingat peristiwa itu. Kedua, ibarat luka, ketika dibuka, akan makin sakit. Hasilnya, Anda malah memperbesar masalah, dan membuat perbincangan jadi tidak bermutu. Itu membuat emosi Anda dan pasangan menjadi makin labil, sehingga sulit fokus pada permasalahan saat ini.

Hindari juga kata-kata kasar. Anda mungkin lega ketika mengatakannya. Tapi, percayalah, masalah bakal makin ruwet.

5 CIPTAKAN SUASANA KONDUSIF
Suasana yang tenang sangat membantu menyelesaikan masalah. Mungkin Anda sedang marah. Tapi, daripada tidak menemukan jalan keluar, lebih dulu buatkan pasangan minuman kesukaannya, atau sediakan malam malam seperti biasa. Setelah itu, baru boleh perang. Sebab, saat itu kemungkinan besar tingkat emosi Anda berdua sudah menurun.

6 UNGKAPKAN FAKTA
Jangan hanya bicara soal perasaan, tapi ungkapkan juga fakta. Misalnya, ketika pasangan melanggar kesepakatan batas belanja untuk hobinya, katakan, ”Kamu inget nggak, kamu janji hanya belanja pernak-pernik sepeda maksimal Rp1 juta. Baru dua minggu, kamu sudah habiskan Rp3 juta.” Pasangan akan lebih mendengar keluhan Anda dibanding Anda marah.

Penulis: Prillia Herawati

[Dari femina 21 / 2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: