’Huru-Hara’ di Gerbang Pernikahan


Kalau begini, mendingan pernikahan batal saja, deh!

Kalimat itu cukup sering terlontar (entah sadar, entah tidak) di detik-detik terakhir menjelang pernikahan. Pokoknya, tiada hari tanpa ’perang’. Duh… rusuh banget! Jauh berbeda dibanding saat pertama Anda mulai merancang perkawinan. Benarkah dia calon suami yang tepat? Bagaimana kalau ternyata Anda salah pilih? Tampaknya, hampir semua calon pengantin sempat merasakan ’huru-hara’ seperti itu. Normalkan hal ini? Bisakah dihindari?

TIBA-TIBA JADI RAGU
’Perkelahian’ antarpasangan yang akan menikah, menurut konsultan perkawinan Adriana Ginanjar, merupakan hal yang wajar. Soalnya, ketika hari perkawinan sudah dalam hitungan hari, masih banyak urusan yang belum selesai. Undangan belum datang dari percetakan, cincin kawin tidak sesuai pesanan, kebaya para pagar ayu belum jadi, sebagian cendera mata rusak saat pengiriman. Waduh….

Adriana memandang, kerusuhan bisa terjadi karena campur tangan orang tua. Sebenarnya ini bisa dihindari. Asalkan orang tua memberi kebebasan penuh pada kedua anaknya untuk memilih sendiri jenis pernikahan yang diinginkan. Karena itu, “Temukanlah jalan untuk membujuk orang tua. Atau, menyewa wedding organizer untuk menetralkan suasana.

Ada mitos, kalau akan menikah, ada saja godaan datang. Salah satu godaan itu umumnya berwujud pria baru. Yang lebih sering terjadi, kalau tiba-tiba diserang rasa ragu pada calon suami, biasanya (di luar sadar) Anda akan membandingkan si dia dengan pria-pria lain, untuk meyakinkan diri bahwa pria lain pun mempunyai kekurangan. Kalau ternyata di luar sana ada pria lain yang lebih sesuai, bisa jadi pernikahan itu terancam batal,” Adriana menjelaskan.

Memasuki gerbang sakral itu, Adriana menilai, calon pengantin akan deg-degan setengah mati. Ada saja pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Entah keraguan terhadap diri sendiri atau calon suami, memikirkan karier, atau memikirkan pergaulan yang mungkin akan mandek bila sudah menikah dan punya anak.

Kadar dahsyatnya pertengkaran pada setiap pasangan berbeda-beda. Ada yang ringan, ada pula yang bertengkar hebat, yang tidak hanya berujung pada pembatalan pernikahan, melainkan sampai benar-benar putus hubungan, seperti yang terjadi pada Marisa yang kini benar-benar sudah stop berkomunikasi dengan si mantan pacar.

Masa pengenalan saat berpacaran pun mengambil peran cukup penting. Namun, tidak ada jaminan bahwa lama masa pacaran menunjukkan pengenalan yang cukup dalam. Karena, pembicaraan yang mereka lakukan mungkin hanya di permukaan. “Kebanyakan, yang didiskusikan hanya seputar gedung resepsi atau pernak-pernik pernikahan lainnya. Jarang ada yang membicarakan tentang harapan masing-masing setelah berkeluarga,” Adriana, menjelaskan.

Penulis: Veronica Wahyuningkintarsih

Sumber: http://www.femina-online.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: