Awas, Jangan Sembarangan Ngomongin Pasangan


Saking asyiknya ngobrol, kadang kita kebablasan ngomongin pasangan. Hati-hati, ah. Dampaknya bisa buruk, lo!

Kalau sudah bertemu teman, apalagi teman lama yang sudah sekian waktu tak berjumpa, kadang mulut kita tak bisa direm untuk bercerita perihal keluarga. Buntutnya, cerita pun merembet ke masalah pribadi kita dan pasangan.

Saat ngrumpi, sih, terasa enteng-enteng saja. Tapi setelah tiba di rumah, tak jarang timbul penyesalan, “Kok tadi aku gampang banget, ya, mengobral rahasia pada teman? Aduh, jangan-jangan nanti dia nyebarin cerita itu ke mana-mana!” Begitu, bukan, yang kerap terjadi?

Tentu sah-sah saja kita membicarakan masalah pribadi pada teman. Bagaimanapun, setiap orang butuh “curhat” alias curahan hati. Namun, seperti dikatakan Zamralita, S. Psi., kita harus tahu batas-batasnya. “Tak semua permasalahan layak untuk dibicarakan pada orang lain,” ujar dosen di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta ini.

Jadi, kalau cuma soal pekerjaan, hobi, asal-muasal pasangan atau cara kita ketemu pasangan, menurut psikolog yang akrab dipanggil Lita ini, tak apa-apa diomongin dengan orang lain. Namun kalau masalahnya berkaitan dengan seksual, entah itu tentang kebiasaan pasangan dalam berhubungan maupun kekurangannya dan sebagainya, “Sungguh tak pantas dibicarakan kepada orang lain,” tukas Lita.

Masalah yang juga tabu untuk “disebarluaskan” adalah soal keuangan. Misalnya, gaji kita lebih besar daripada suami. Begitu juga soal kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan semisal jorok, pembohong, suka berjudi, dan lainnya. Selain itu,masa lalu yang buruk dari pasangan juga pantang dirumpiin. Pokoknya, tandas Lita, kalau sudah menyangkut hal pribadi pasangan, keluarga pasangan atau yng menyinggung harga dirinya, “Sebaiknya kita harus mengerem mulut. Apalagi kalau kita ‘mengumbar’ cerita tersebut dengan maksud mentertawakan atau menjelekkan pasangan.”

HARUS ADA TUJUAN

Namun bukan berarti kita tak boleh sama sekali membicarakan hal-hal sensitif tersebut. Yang penting, kata Lita, harus ada tujuannya. “Kalau hanya sekadar mengumbar cerita, buat apa? Enggak ada gunanya, kan?” Lain halnya bila kita bertujuan mencari solusi, melengkapi informasi atau untuk meyakinkan diri. Misalnya, “Apakah yang dilakukan suamiku itu juga dilakukan pula oleh suami yang lain?” Atau, “Bagaimana, sih, cara mengatur uang belanja dengan bijak.”

Juga jika tujuannya adalah untuk menolong teman. Misalnya, si teman minta saran atas masalahnya. Nah, bolehlah kita membeberkan pengalaman pribadi, walaupun permasalahannya itu sensitif. Sebab, kita menceritakan hal itu bukan dalam arti negatif, tapi untuk memberi solusi pada si teman.

Menurut Lita, biasanya kalau istri sampai “curhat” ke orang lain, itu pertanda ada sesuatu yang tak beres antara dirinya dengan sang suami. Entah ketidaksesuaian pendapat atau ketidakpuasan, sehingga perlu dicarikan solusinya. “Memang tidak semuanya begitu. Paling banyak justru yang karena iseng dan tak bisa menahan mulutnya, walau sebenarnya tak ada masalah apa-apa dengan pasangannya.”

Namun tak jarang pula kita bercerita lantaran terpancing pertanyaan teman. “Itu karena kita tak punya kontrol diri yang kuat,” ujar Lita. “Jika kontrol diri kita kuat, kita akan selalu sadar bahwa ada rambu-rambu yang tak boleh diterabas sehingga kita tak terpancing untuk menceritakan hal-hal yang dapat melukai harga diri pasangan.”

Selain itu, kita pun seharusnya bisa bercermin dari si teman. Kalau ia bisa menceritakan perihal pasangannya dengan entengnya, bukan tak mungkin ia akan dengan enteng pula menceritakan rahasia kita kepada orang lain. Iya, kan!

PILIH ORANG YANG TEPAT

Yang juga harus diperhatikan ialah siapa orang yang diajak bicara. Jangan sampai si teman ternyata bermulut “ember” alias gemar menyebar-luaskan rahasia orang. Sehingga begitu kita ada apa-apa dengan pasangan, orang langsung akan menduga, “Wah, pasti gara-garanya hal itu, deh, sehingga mereka sampai retak.” Padahal, belum tentu juga, kan? Karena itu, seperti disarankan Lita, “Pilih teman yang benar-benar bisa dipercaya, yang tak bakal membocorkan rahasia kita. Juga yang sekiranya bisa memberikan solusi atau jalan keluar dari masalah kita.”

Kalau bisa, si teman tak mengenal pasangan kita demi menjaga pandangannya terhadap suami. Takutnya, ia akan punya penilaian khusus pada pasangan kita, “Oh, ternyata dia itu begitu, toh? Kok, kejam amat suamimu.” Penilaian tersebut tentunya bisa sangat merugikan kita. “Bayangkan, kalau suatu saat kita ketemu teman lama lantas ia tanya, ‘Eh, bagaimana suamimu, masih nyeleweng enggak?’ Kan, ini membuat perasaan kita tak enak juga. Padahal permasalahan dengan suami sudah selesai.”

Terlebih lagi kala kita bercerita, dibarengi dengan emosi. Si teman jadi ikut memvonis pasangan kita atau terbawa emosi. Jangan lupa, sebagai sahabat, ia punya ikatan batin dengan kita. Apalagi dalam keadaan emosional, kita biasanya cenderung memaksakan pendapat, bahwa kitalah yang benar. Bahkan kalau perlu ditambah dengan membeberkan kejelekan pasangan, demi meyakinkan si teman. Akhirnya ia jadi sependapat dengan kita, “Iya, ya, kok, kejam betul, sih, suami kamu,” misalnya. Akibatnya, tujuan kita untuk mencari solusi jadi tak tercapai.

Bagaimana kalau kita “curhat”nya ke orang tua atau mertua? Ternyata, Lita sama sekali tak menganjurkan. “Soalnya, nanti pandangan dan respek mereka terhadap pasangan kita akan berubah.” Bisa jadi mereka akan membandingkan pasangan kita dengan menantunya yang lain. Akhirnya yang ada adalah sikap dingin pada pasangan kita.

Apalagi, sambung Lita, orang tua jarang yang bisa bersikap netral. “Tanpa disadari, mereka cenderung memihak. Bukankah salah satunya adalah anaknya?” Jeleknya lagi, ada kemungkinan mereka melakukan intervensi bila kita memiliki masalah-masalah tertentu dalam perkawinan.

JANGAN DI DENGAR ANAK

Selain memperhatikan apa tujuan dan siapa orang yang tepat diajak bicara, Lita juga menyarankan agar memilih tempat yang pas untuk membicarakan hal-hal pribadi tersebut. “Jangan sampai kita bicara seperti jumpa pers. Misalnya, di tempat arisan sehingga dapat didengar semua orang.” Jadi, tempatnya harus yang pribadi pula, yang orang lain tak bakal ikut mendengar pembicaraan tersebut. Misalnya, di restoran.

Bagaimana kalau di rumah? “Boleh saja, asal dipilih saat anggota keluarga lain tak bisa ikut mendengarnya,” ujar Lita yang wanti-wanti berpesan agar anak jangan sampai mendengar “pergunjingan” kita dengan orang lain tentang ayah/ibunya. “Apa pun juga, itu adalah ayahnya atau ibunya. Jadi, sejelek apa pun kondisi ayah atau ibunya, anak sebaiknya tetap punya citra positif tentang ayah ibunya.”

Sebab, terang Lita, kalau kita membicarakan hal negatif tentang pasangan kita, sama saja dengan kita meracuni diri anak. Selain itu, anak mencontoh dari tingkah orang tuanya. “Nah, bagaimana kita mau mengajari anak tentang hal-hal baik dan benar kalau kita saja membeberkan rahasia terburuk dari pasangan kita di depan anak,” bilangnya.

PASANGAN SYOK

Biasanya yang doyan “curhat” hal-hal pribadi adalah para istri. “Soalnya pengetahuan kita di bidang tersebut, terutama masalah seks, kebanyakan masih sangat minim sehingga sering membingungkan,” tutur Lita. Apalagi sangat jarang yang sebelum menikah sudah dibekali pelajaran khusus tentang hal ini.

Sementara para suami jarang sekali “curhat”. Kalaupun mereka cerita perihal “dapur”, biasanya hanya pada acara-acara khusus semisal saat kumpul-kumpul di pesta pernikahan. Dan yang paling sering dirumpiin berkisar soal hubungan seksual, pelayanan istri, serta kesetiaan atau ketelatenannya dalam mengurus suami.

Namun begitu, apa pun yang dijadikan bahan obrolan, entah oleh istri atau suami, Lita mengingatkan bahwa pasangan bisa sangat syok apabila mengetahuinya. “Misalnya, sang teman keceplosan bicara pada pasangan kita lantaran sudah merasa sangat dekat dengan keluarga kita. Akibatnya, pasangan jadi syok karena orang lain mengetahui rahasianya.” Bisa jadi si pasangan, terlebih suami, akan marah lantaran ia tak setuju dan tak terima rahasianya diketahui orang lain.

Perlu dipahami, terang Lita, ego pria dan wanita berbeda. Biasanya ego pria menyangkut seks, kekuasaan, prestasi, dan penaklukan. “Jadi, mereka ingin sesuatu yang lebih dari wanita.” Kalau dalam hal keuangan, misalnya, pendapatan si suami lebih kecil daripada pendapat istri, ia sudah merasa dilecehkan. Apalagi kalau hal itu sampai dibicarakan ke mana-mana oleh istrinya, tentu akan menambah luka di hatinya.

Yang terjadi kemudian, biasanya suami akan minta pertanggungjawaban istrinya, “Kenapa temanmu sampai bisa tahu sedalam itu tentang kita?” Selanjutnya, bisa jadi ia tak akan percaya lagi dengan istrinya. Misalnya, ia tak lagi sepenuhnya terbuka pada istri. Kalau dulu segala sesuatunya selalu diceritakan, maka kini ada hal-hal tertentu yang dirahasiakannya. Kalau sudah begitu, dampaknya juga tak bagus bagi hubungan suami-istri.

KOMUNIKASI DAN KONTROL DIRI

Sebenarnya, ujar Lita, kalaupun kita ingin mencari solusi dari teman, belum tentu ia bisa memberikan jawaban atau jalan keluar dengan tepat. Karena itu, anjurnya, “Lebih baik diatasi sendiri atau dibicarakan berdua dengan pasangan.” Tapi kalau dengan cara ini ternyata tetap tak terpecahkan masalahnya, sebaiknya datanglah ke ahlinya.

Itulah mengapa Lita menekankan betapa penting menjalin komunikasi di antara suami-istri. Bukan hanya untuk membicarakan persoalan yang kita hadapi dengan pasangan, namun juga perihal apa saja yang sensitif bagi kita/pasangan dan mana yang boleh dibuka untuk umum. Karena bisa terjadi, apa yang sensitif bagi pasangan ternyata bagi kita biasa-biasa saja dan boleh diceritakan ke orang lain. Nah, dengan adanya komunikasi, kita jadi tahu mana yang pantas dan mana yang tak boleh diceritakan. Tentu kita pun harus menghormatinya.

Selain itu, kita juga harus memiliki kontrol diri yang kuat agar tak gampang terpancing dan bisa mengerem mulut kita untuk tak membicarakannya. “Biasanya kalau kita lagi tak ada masalah dengan pasangan, kontrol diri kita akan kuat. Tapi kalau lagi ada masalah justru melonggar, sehingga kita jadi gampang terpancing untuk membeberkan rahasia ‘dapur’ kita.”

Nah, agar kontrol diri kita tetap kuat, saran Lita, libatkan orang ketiga dalam pembicaraan kita dengan teman. Entah itu pasangan atau anak. “Biasanya kita jadi agak lebih berhati-hati dalam berbicara, enggak lepas kontrol, dibanding kalau kita hanya berdua saja dengan si teman.”

Namun tentunya kontrol diri tak bisa terbentuk seketika. Pasti harus melalui proses yang sangat panjang. “Dengan semakin dewasanya usia dan semakin banyak pengalaman kita, semakin bisa kita memilah-milah permasalahan. Mana yang patut diceritakan pada orang lain dan mana yang tidak.” kata Lita mengakhiri.

Indah Mulatsih/nakita

Sumber : http://www.tabloidnova.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: